Rabu, 30 November 2011

12 Langkah untuk Langsing Tanpa Diet Ketat




Bertubuh langsing merupakan idaman setiap wanita. Anda berusaha mengatur menu makanan agar dapat mengenakan berbagai macam pakaian yang sedang trend.

Seperti dikutip dari Guardian, para ahli telah memprediksi bahwa tahun 2020 nanti, 7 dari 10 wanita akan mengalami masalah berat badan. Beberapa wanita merasa dirinya terlalu gemuk, ada pula yang memang overweight atau mengalami obesitas.

Salah satu cara meraih bentuk tubuh ideal itu yakni dengan diet. Bagi sebagian wanita, cara ini tergolong berat; Anda harus menahan siksa godaan saat melihat orang lain menyantap chicken salad dan berbagai makanan lezat lain.

Anda sebaiknya tak perlu menyiksa diri dengan diet supet ketat. Berikut selusin langkah untuk langsing tanpa diet ketat.

1. Set waktu makan Anda
Jika Anda makan terburu-buru, sistem pencernaan tak akan efektif menyerap nutrisi. Hasilnya, banyak lemak yang tertinggal dan nutrisi yang terbuang. Jadi, biasakan men-setting waktu agar jadwal makan Anda tak terburu-buru.

2. Tidur cukup di malam hari

Tidur cukup akan membuat Anda lebih segar saat bangun di pagi hari. Sehingga, Anda terhindar untuk ngemil tak sehat sebelum tidur.

3. Tiga jenis sayuran sehat
Sayur kaya serat penting yang dibutuhkan pencernaan untul memperlancar pembuangan makanan yang tak diperlukan tbuh. Konsumsilah sayuran dengan tiga jenis yang berbeda. Contohnya sawi, wortel, dan taoge. Kombinasi ini mengandung nutrisi yang berbeda-beda untuk emncukupi kebutuhan Anda.

4. Kurangi garam
Selain gula, garam juga memicu kegemukan. Kenapa? nutrisi terurai dari tubuh saat Anda banyak mengonsumsi garam. Sementara lemak dan kalori tetap bertahan dan mengisi ruang-ruang di perut, pinggang, dan paha. Takaran garam yang dianjurkan untuk dikonsumsi yakni satu sendok teh setiap hari. Namun, jika Anda belum mampu, kurangi takaran garam dalam masakan Anda dari biasanya.

5. Gantung baju kesayangan Anda
Anda mungkin pernah membeli sebuah baju yang bagus tanpa mencoba. Namun, baju itu ternyata tak muat ketika Anda kenakan di rumah. Jangan buang baju itu. Gantung saja di tempat yang bisa Anda lihat. Dengan demikian, Anda termotivasi berbagai cara agar akhirnya dapat mengenakan baju itu, seperti berolahraga.

6. Nasi Vs Daging
Anda terbiasa menyantap semua menu dengan nasi. Padahal, cara ini kurang benar. Daging adalah menu yang bertentangan dengan nasi. Saat keduanya bertemu, perut Anda akan gembul. Namun, tubuh juga membutuhkan nutrisi daging. Bingung? Kombinasikan saja daging dengan menu sayuran.

7. Pandai pilih menu Pizza
Boleh saja sesekali menikmati pizza. Tapi pilih topping yang sehat dan mengandung lebih banyak sayuran daripada daging. Hasilnya akan lebih maksimal, jika Anda makan salad tanpa saus agar kalori serat dapat mengimbangi kalori daging.

8. Less sugar please!
Mengkonsumsi banyak gula memicu bahaya diabetes. Mulai kini, kurangi gula dalam tiap menu. Dan, jangan lupa minum air mineral delapan gelas sehari.

9. Pilih gelas yang tinggi dan ramping
Ahli kesehatan Brian Wansink PhD menyarankan visualisasi gelas dapat memperngaruhi kita untuk minum. Jika Anda kerap melewatkan delapan gelas air mineral sehari, maka sediakan sebuah gelas yang langsing dan tinggi. Sehingga, Anda akan berusaha menghabiskan air dalam gelas itu.

10. Batasi alkohol

Bukan dilarang, tetapi kurangi dan batasi konsumsi alkohol Anda. Bahkan, wine sebenarnya sangat baik untuk kesehatan, asalkan tidak berlebihan.

11. Awali hari dengan Clorofil
Mengawali hari dengan Clorofil adalah tips terbaik setiap pagi. Kandungan kafein pada green tea membuat Anda menemukan tambahan energi dan semangat beraktivitas. Antioksidannya membuat Anda sehat dan jauh dari ancaman kanker.

12. Fresh Veggies
Sayuran mentah memberikan asupan nutrisi sehat untuk tubuh. Sayuran itu seperti mentimun, selada, kacang panjang, dan daun kemangi. Kesegarannya membuat nutrisi yang terkandung masih maksimal karena belum diolah. Anda juga memadukan makanan ini dengan menu daging.

Berusaha langsing itu mudah dan menyenangkan. Anda tak perlu lagi mengikat pinggang dan menolak semua jenis makanan. Selamat mencoba.

Tips Mengatasi Asam Lambung


GAYA hidup dan pola makan kembali terbukti memengaruhi kesehatan. Kehidupan dengan stres tinggi dan makan makanan berlemak diyakini sebagai pemicu penyakit refluks gastroesofageal (GERD).

Penyakit dengan gejala rasa nyeri dan panas di dada dan asam lambung naik ke kerongkongan ini jika dibiarkan berlarut-larut bisa menimbulkan gangguan suara serak, batuk kronis, sesak napas, bahkan kanker kerongkongan. Gangguan ini bisa diatasi dengan obat- obatan yang tersedia pasaran. Jenis dan dosisnya dibakukan dalam Konsensus Nasional Penatalaksanaan Penyakit Refluks Gastroesofageal yang disusun Kelompok Studi GERD Indonesia.

Penyakit refluks gastroesofageal menurut definisi dalam konsensus nasional adalah kelainan yang menyebabkan cairan lambung mengalami refluks (mengalir balik) ke kerongkongan dan menimbulkan gejala khas berupa rasa terbakar di dada, kadang-kadang disertai rasa nyeri serta gejala lain seperti rasa asam dan pahit di lidah, nyeri ulu hati, perut kembung, sering bersendawa, serta kesulitan menelan.

Menurut dr Ari Fahrial Syam SpPD MMB dari Divisi Gastroenterologi Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (FKUI/RSCM) pada jumpa pers simposium penatalaksanaan terkini penyakit dalam, Sabtu (4/12), semula gangguan ini dikelompokkan sebagai gangguan pada lambung. Namun dalam perkembangannya, GERD menjadi penyakit tersendiri, yaitu gangguan pada kerongkongan dengan kriteria, pemeriksaan, dan pengobatan tersendiri.

"Makanan berlemak seperti keju atau cokelat serta faktor stres menyebabkan produksi asam dan gas berlebihan dalam lambung. Makanan berlemak juga memperlemah klep kerongkongan. Akibatnya asam dan gas naik ke kerongkongan. Hal ini akan menimbulkan luka di kerongkongan," paparnya.

Kalau terus berlangsung, hal ini akan mengganggu organ lain seperti gangguan pita suara, gatal di tenggorokan, asam yang ke paru akan menimbulkan gejala sesak napas seperti asma. Pada kerongkongan akan terjadi penyempitan, radang dan perubahan dinding kerongkongan, mula-mula berupa polip dan bisa berkembang menjadi kanker.

PREVALENSI GERD dan komplikasinya di Asia termasuk rendah dibandingkan dengan negara-negara Barat. Prevalensi di Barat berkisar 10-20 persen, sedangkan di Asia 3-5 persen, dengan pengecualian di Jepang 13-15 persen dan Taiwan 15 persen.

Penelitian tahun 1998 di FKUI/RSCM pada pasien dengan gejala dispepsia yang mendapat pemeriksaan endoskopi ditemukan kasus GERD berupa radang kerongkongan sebanyak 22,8 persen. Penelitian lain di FKUI/RSCM melaporkan dari 1.718 pasien yang menjalani pemeriksaan dengan teropong saluran cerna bagian atas dengan indikasi dispepsia selama lima tahun (1997-2002) menunjukkan peningkatan prevalensi radang kerongkongan dari 5,7 persen pada tahun 1997 menjadi 25,18 persen pada tahun 2002.

Gejala GERD sering tumpang tindih dengan gejala dispepsia (gangguan pencernaan akibat tingginya asam lambung). Sering juga disangka gangguan jantung karena penderita merasa nyeri, sesak, dan panas di bagian dada sehingga ada pelbagai pemeriksaan untuk mencari kelainan pada jantung.

OBAT golongan antasida memang bisa menghilangkan gejala, tetapi tidak menghentikan proses yang terjadi. Karenanya, demikian Ari, diperlukan obat antiasam yang lebih kuat berupa penghambat pompa proton (proton pump inhibitor/PPI) seperti omeprazol, esomeprazol, pantoprazol, lansoprazol.

Obat ini bekerja dengan cara menghambat pompa proton pada dinding sel parietal-yaitu sel yang memproduksi asam- sehingga terjadi penurunan produksi dan pengeluaran asam lambung. "Keasaman lambung dipertahankan pada pH 4-6 untuk memberi kesempatan tubuh memperbaiki kerusakan yang terjadi," jelasnya.

Sebenarnya asam berfungsi membantu pencernaan dan membunuh kuman. Namun, produksi asam yang berlebihan akan merusak dinding lambung dan kerongkongan seperti pada kasus GERD. Upaya menurunkan tingkat keasaman sampai pH 4-6 sejauh ini tidak membahayakan kesehatan.

Dalam konsensus nasional disebutkan, jika pasien yang mendapat PPI dosis ganda selama satu minggu kondisinya membaik, pengobatan harus diteruskan sampai delapan minggu agar sembuh total.

Untuk radang kerongkongan sedang dan berat perlu dilanjutkan dengan terapi pemeliharaan sesuai dengan kebutuhan (bisa sampai enam bulan).

Menurut Ari, konsensus nasional didasarkan pada konsensus yang disusun pelbagai pusat penelitian di dunia, studi kasus di Indonesia, dan pengalaman empiris para pakar/praktisi medis yang menyusun konsensus ini. Konsensus diharapkan menjadi pedoman para dokter dalam penatalaksanaan GERD sehingga tercapai hasil pengobatan yang optimal.

Namun, pengobatan tak akan banyak berarti jika gaya hidup dan pola makan tak diubah. Karena kedua hal itu yang sebenarnya menjadi kunci kesehatan kita.

Senin, 10 Oktober 2011


Treatment Your Home

Jangan Hanya Berangan - angan
Kami buktikan bahwa "
Wajah cantik dan Badan yang ideal BUKAN sekedar MIMPI
Kini telah hadir perawatan wajah dan slimming center dengan konsep perawatan dirumah, anda tidak perlu capek2 antri di salon cukup telpon dan kami datang atau anda bsa kunjungi klinik terdekat kami !
Produk yang kami gunakan adalah produk berkualitas dan anda rasakan sensasi yang luar biasa !
Service yg kami sediakan :
* Facial totok wajah Guasha
* Pelangsingan
* Produk skincare
* Produk Program Slimming
* Creambath
* Juice Health
* Massage javanese

Hari kerja : Setiap hari dengan Perjanjian

Jam :08.00-18.00

Daerah Jangkauan : JABODETABEK

Booking dan reservasi :

HUBUNGI
Erning Yudhawati
087886573045 / 021 97260265 / 021 98976960
houseofguasha@gmail.com
www.synergyskincarecenter.com